Rantis Brimob Tewaskan Pengemudi Ojol di Tengah Aksi DPR

Pengendara Ojek Online Terlindas Kendaraan Brimob | Perssukma.id/lenterainspiratif.id

Demonstrasi di sekitar Gedung Dewan Perwakilan Rakyat/Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (DPR/MPR RI), Kamis, 28 September 2025, berakhir dengan catatan kelam. Seorang pengemudi ojek online (ojol) dilindas kendaraan taktis (rantis) Brigade Mobil (Brimob) di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat. Insiden ini sontak memicu amarah massa dan gelombang kritik tajam terhadap aparat keamanan.

Affan Kurniawan, korban yang dilaporkan mengenakan atribut ojol, tertabrak ketika rantis mencoba memecah kerumunan massa. Rekaman amatir memperlihatkan korban sempat berusaha menghindar, namun ban depan rantis tetap melindas tubuhnya. Ia dinyatakan meninggal setelah menjalani perawatan selama beberapa jam di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat (Kompas.com, 28/8/2025).

Selain Affan Kurniawan, terdapat korban lain bernama Moh. Umar Amirudin, yang juga merupakan pengemudi ojol. Umar mengalami luka serius akibat peristiwa serupa. Kondisinya kini sudah sadar, meski masih merasakan sakit dan menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Pelni, Palmerah, Jakarta Barat (Suara.com, 29/8/2025).

Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Inspektur Jenderal (Irjen) Abdul Karim, mengonfirmasi bahwa tujuh anggota Brimob yang berada dalam kendaraan maut tersebut kini tengah diperiksa. “Kami sudah mengamankan personel dan kendaraan untuk penyelidikan,” ujarnya (Liputan6, 29/8/2025). Kendaraan rantis turut disita dan dibawa ke Markas Brimob Kepolisian Daerah (Polda) Metropolitan Jakarta Raya (Metro Jaya), Kwitang.

Di sisi lain, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Metro Jaya, Irjen Pol. Asep Edi Suheri, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menoleransi pelanggaran. “Setiap anggota yang terbukti lalai atau melanggar prosedur akan diproses sesuai aturan,” ucapnya (Liputan6, 29/8/2025). Namun, kepolisian juga menyebut adanya “penyusup” yang memicu kericuhan dan pernyataan tersebut justru menuai cibiran publik.

Kemarahan massa pasca kejadian tidak terbendung. Sejumlah demonstran mengepung rantis, meneriakkan kecaman, bahkan sempat mencoba merusak kendaraan. Meski situasi akhirnya mereda pada Jumat pagi, trauma dan luka publik masih membekas.

Menurut pengamat Hak Asasi Manusia (HAM) dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), kejadian ini mencerminkan wajah lama aparat yang belum berubah. “Ini bukan sekadar kecelakaan, ini potret kegagalan negara melindungi rakyatnya,” ujar Arif Maulana (Suara.com, 29/8/2025)

Kini, publik menunggu transparansi penyelidikan Polri. Apakah kasus ini akan berakhir seperti tragedi-tragedi sebelumnya sunyi tanpa keadilan atau menjadi momentum untuk membongkar budaya represif aparat? Dan kini suara rakyat yang tumpah di jalanan menuntut jawaban, Siapa yang bertanggung jawab? (*)

Penulis : Adit Indra Lesmana

Penyunting : rizky

Pos terkait