Menilik Pembuangan Sampah di Lahan Sawit

Masalah sampah di lahan praktikum kelapa sawit Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan (BTK) masih menjadi sorotan utama di Politeknik Negeri Lampung (Polinela), di mana keluhan dari mahasiswa saat praktikum di lahan produksi sawit yang berdekatan dengan tempat pembuangan dan pembakaran sampah.

Kegiatan rutin di lahan praktikum kelapa sawit Polinela diwarnai oleh tumpukan sampah yang menumpuk di sudut area, menimbulkan keprihatinan akan dampaknya terhadap lingkungan dan kegiatan akademik. Sampah-sampah tersebut terdiri dari berbagai jenis, mulai dari plastik styrofoam, kertas, hingga limbah organik.

Mul, petugas kebersihan sampah lingkungan Polinela menjelaskan bahwa tempat yang disediakan kurang memenuhi kebutuhan. “Untuk pembakaran sampah di sini sangat kurang tepat, karena tidak ada tempat yang memadai dan alokasinya pun tidak bisa kita kumpulkan secara merata,” ungkapnya.

Mul juga menghimbau untuk mahasiswa agar dapat mengurangi penggunaan sampah plastik untuk kegiatan mahasiswa. “Jika ada kegiatan positif silahkan tapi jangan menggunakan styrofoam karena ini susah untuk diurai, dibakar pun susah,” ujarnya.

Ervani Pasaribu, Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Politeknik Pencinta Alam Lampung (Poltapala) mengatakan bahwa tindakan yang dapat dilakukan saat ini dengan meningkatkan kesadaran melalui kampanye edukasi dan membangun kerjasama dengan pihak terkait untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan di masa depan. “Tindakan yang dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran lingkungan melalui kampanye edukasi, mengatur kegiatan pembersihan dan rehabilitasi lahan, dan mengobrol dengan pihak akademik dengan menawarkan ide yang kami punya, untuk menegakkan peraturan lingkungan,” ungkapnya.

Zulkifli Dwi Saputra, Mahasiswa Program studi (Prodi) Produksi Tanaman Perkebunan (PTK) memberikan tanggapan bahwa cukup terganggu ketika dilakukannya pembakaran sampah pada saat praktikum. “Cukup terganggu apalagi pas pembakaran sampah ya asapnya mengganggu kami saat praktikum, mungkin yang perempuan biasanya sesak karena asap,” ucapnya.

Kurangnya tempat pembuangan sampah di Polinela, lahan praktikum perkebunan kelapa sawit Jurusan BTK dijadikan tempat pembuangan sampah. Jika tidak dilakukan pembakaran, maka akan mengakibatkan terjadinya penumpukan sampah.

Zulkifli Dwi Saputra berharap agar ke depannya Polinela dapat memiliki tempat khusus untuk pembuangan sampah. “Kalau bisa dicari tempat yang memang khusus tempat pembuangan sampahnya bukan dicampur dengan lahan praktikum, jadi kasihan dengan mahasiswa terutama yang perempuan yang lahan praktikum di sawitan dekat dengan sampahnya, terganggu dengan asapnya sudah itu dengan baunya,” ujarnya.    Ervani pasaribu berharap agar Mahasiswa Polinela agar ikut serta mengkritik dan memberikan saran serta aksi terhadap masalah sampah ini. “Saya juga berharap agar Mahasiswa Polinela atau ormawa ikut serta dalam mengkritik dan memberikan saran serta aksi agar tidak terjadi hal merugikan seperti ini untuk ke depannya,” tutupnya.

Penulis : Freeza Dhea Ayu, Adit Indra Lesmana

penyunting : Dina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 49 = 50