Diskusi Publik Perubahan Iklim Bersama Mitra Bentala & UKM Poltapala

Kegiatan diskusi publik mengenai perubahan iklim di Provinsi Lampung yang diadakan Mitra Bentala & UKM Poltapala Polinela di Gedung QB1, Sabtu, 09 Maret 2024 | perssukma.id/Ahmad Khoirudin

Sabtu, 09 Maret 2024, isu perubahan iklim yang berdampak di Provinsi Lampung akhir-akhir ini, disuarakan dalam ruang Diskusi Publik yang bertajuk: “Peran Kaum Milenial Upaya untuk Mengurangi Dampak Perubahan Iklim Provinsi Lampung” yang diadakan oleh Mitra Bentala yang bekerjasama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Politeknik Pencinta Alam (Poltapala) Politeknik Negeri Lampung (Polinela).

Acara yang kurang lebih dipersiapkan dalam waktu 1 minggu ini diadakan di Gedung Kenanga Bawah (QB) 1 Polinela. Mitra Bentala dan UKM Portapala Polinela mengajak secara masif generasi milenial untuk bersama-sama memahami isu iklim di sekitar.

Bacaan Lainnya

Ervani Pasaribu, Ketua Umum (Ketum) Poltapala mengatakan tujuan diadakannya diskusi publik ini agar manusia sadar dan peduli dengan iklim. “Supaya kita mengetahui tentang iklim yang terjadi saat ini, ya tentunya karena cuaca yang tidak signifikan. Kadang hujan kadang banjir, seperti yang terjadi di kampus kita, banjir itu karena hujan, gara-gara cuaca tentunya yang tidak signifikan,” ucapnya.

Antusiasme acara diskusi publik ini tidak hanya di ranah kampus saja, masyarakat umum hingga anak Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat pun terlihat hadir untuk mengikuti pembicaraan mengenai iklim di Provinsi Lampung.

Adita, siswa pencinta alam dari Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 4 Bandar Lampung, berpendapat bahwa pengetahuan mengenai iklim harus sejalan dengan langkah-langkah yang mengantisipasi perubahan iklim yang terlalu tiba-tiba ini,” ujarnya.

Pendapat Adita disepakati oleh Narasumber pada acara diskusi publik, yaitu Eva Nur dari sektor Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung. “Ini merupakan satu tanggung jawab kita, sebagai generasi ke depan bagaimana kita berbuat ke depannya, karena iklim ini semua. Dimana kondisi iklim bisa menyebabkan bencana, kepunahan, dan macam-macam,” ucap Eva yang menguatkan bahwa isu iklim ini berdampak apabila kita tidak menjaga kondisi dan hanya lalu lalang.

Supandi, sebagai perwakilan sektor pertanian generasi milenial, mengenalkan sedikit bentuk antisipasi mengenai perubahan isu iklim dan fenomena-fenomena yang akan terjadi. “Kan bisa dilakukan pembuatan sumur bor, embung untuk persiapan tanam, sehingga apabila ada terjadinya musim kemarau maka tidak mengganggu proses penanaman para petani,” ucapnya.(*)

Penulis : Runi Widiasih, Ahmad Khoirudin

Penyunting : Rizky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

72 ÷ = 24